The Hyena's Birth

perjuangan biologi paling mengerikan saat hyena betina harus melahirkan melalui organ yang sempit

The Hyena's Birth
I

Bicara soal melahirkan, kita semua sepakat bahwa ini adalah proses yang luar biasa menyakitkan sekaligus penuh keajaiban. Dalam biologi manusia, kita tahu bahwa perpaduan antara ukuran otak bayi yang besar dan panggul ibu yang menyempit karena kita berjalan dua kaki, membuat proses persalinan manusia menjadi salah satu yang paling sulit di dunia mamalia. Namun, mari kita simpan sejenak empati kita untuk spesies kita sendiri. Di padang sabana Afrika, ada satu hewan yang seolah dijadikan subjek lelucon paling kejam oleh proses evolusi. Kita mengenalnya sebagai hyena tutul, atau Crocuta crocuta. Saat kita membedah bagaimana seekor ibu hyena harus membawa kehidupan baru ke dunia ini, kita mungkin akan memandang hewan ini dengan cara yang jauh berbeda. Ini bukan sekadar cerita tentang anatomi, melainkan tentang pengorbanan biologis yang tidak masuk akal.

II

Sebelum kita masuk ke bagian yang menguji nyali, mari kita luruskan dulu sejarah dan reputasi hyena. Selama berabad-abad, budaya populer dan cerita rakyat membentuk persepsi kita. Sejak zaman Aristoteles hingga film The Lion King, hewan ini selalu digambarkan sebagai penjahat yang licik, pengecut, pemakan bangkai, dan punya tawa yang sinis. Kenyataannya justru kebalikan dari itu semua. Secara psikologis dan sosiologis, hyena sangatlah cerdas. Mereka hidup dalam struktur sosial yang rumit bernama klan, yang bisa terdiri dari puluhan individu. Dan yang paling penting: klan ini adalah sistem matriarki absolut. Betina adalah penguasa mutlak. Betina dengan kasta paling rendah di klan tersebut, posisinya masih jauh lebih tinggi daripada jantan dengan kasta tertinggi. Untuk mempertahankan hierarki yang keras ini, alam memberi para betina sebuah senjata biologis. Sejak dalam kandungan, hyena betina dibanjiri oleh hormon androgen dalam jumlah masif. Hormon ini mengubah otak mereka menjadi sangat agresif. Namun, hormon ini juga mengubah sesuatu yang lain secara drastis. Tubuh mereka.

III

Perubahan tubuh akibat badai hormon inilah yang memicu salah satu teka-teki paling membingungkan dalam biologi. Hyena betina memiliki anatomi reproduksi yang sangat tidak biasa. Mereka tidak memiliki organ kewanitaan eksternal seperti mamalia pada umumnya. Sebagai gantinya, mereka memiliki pseudo-penis atau penis palsu. Organ ini sebenarnya adalah klitoris yang memanjang hingga bisa mencapai tujuh inci, dan secara kasat mata, bentuknya sama persis dengan alat kelamin hyena jantan. Melalui saluran sempit di dalam pseudo-penis inilah, hyena betina membuang air kecil. Melalui organ ini pula mereka melakukan proses perkawinan yang sangat rumit. Ini adalah sebuah keajaiban adaptasi yang luar biasa. Namun, fakta ini justru memicu sebuah pertanyaan logis di kepala kita. Jika organ buang air, organ kawin, dan organ melahirkan semuanya harus melewati satu saluran kecil berbentuk pipa berdaging yang menggantung di luar tubuh... lalu bagaimana cara bayinya keluar? Mari kita pikirkan sejenak. Pipa itu ukurannya sangat sempit, panjang, dan tidak dirancang lentur untuk dilalui oleh benda besar. Di titik inilah, logika anatomi bertabrakan keras dengan kenyataan.

IV

Inilah realitasnya, dan bersiaplah karena fakta ini cukup mengerikan. Proses persalinan hyena adalah sebuah mimpi buruk biologis. Saat hari melahirkan tiba, anak hyena yang berbobot sekitar satu kilogram harus mencari jalan keluar. Masalah pertama: saluran urogenital hyena betina berbelok tajam hingga 180 derajat dari rahim menuju pseudo-penis. Masalah kedua: tali pusar mereka sangat pendek. Saat bayi hyena mulai masuk ke saluran yang berliku ini, plasenta sering kali sudah terlepas, membuat bayi tersebut terancam kehabisan oksigen. Dan masalah ketiga, yang paling brutal: bayi itu harus memaksa keluar melalui pseudo-penis yang sempit. Satu-satunya cara agar bayi itu bisa lahir adalah dengan merobek organ tersebut. Ya, organ itu robek dari dalam ke luar. Tingkat kematian akibat pendarahan pada ibu yang baru pertama kali melahirkan sangatlah tinggi. Tidak hanya sang ibu, tingkat kematian bayi hyena pada persalinan pertama bisa mencapai enam puluh persen karena mereka mati lemas di dalam saluran yang panjang tersebut. Kita mungkin bertanya-tanya, mengapa evolusi membiarkan sistem yang cacat fatal ini bertahan? Jawabannya ada pada prinsip trade-off atau pertukaran dalam biologi. Hormon yang sama yang menyebabkan anatomi reproduksi mengerikan ini, adalah hormon yang persis sama yang membuat betina menjadi lebih besar, lebih ganas, dan mampu bertahan hidup memimpin klan di alam liar yang kejam. Kesuksesan sosial mereka dibayar mahal dengan penderitaan reproduksi.

V

Kisah tentang kelahiran hyena ini pada akhirnya mengajarkan kita sesuatu yang mendalam tentang cara kerja alam semesta. Evolusi itu tidak sempurna, tidak rapi, dan sering kali ia tidak peduli pada rasa sakit. Ia hanya peduli pada siapa yang bisa bertahan hidup dan mewariskan genetiknya. Mengetahui fakta ini rasanya mengubah total cara kita memandang hewan yang sering disalahpahami ini. Di balik tawa khasnya yang sering kita anggap menyeramkan, tersimpan sebuah resiliensi dan pengorbanan yang sulit kita bayangkan. Lain kali kita melihat dokumenter alam liar yang menampilkan hyena tutul, kita tidak lagi melihat sekawanan penjahat pengecut pencuri mangsa singa. Kita sedang melihat para ibu tangguh, yang secara harfiah telah melewati rasa sakit paling ekstrem yang bisa diciptakan oleh biologi, hanya untuk memastikan spesiesnya terus bernapas di bawah matahari Afrika. Alam liar memang kejam, tetapi kemampuan makhluk hidup untuk menanggungnya adalah sebuah kisah pahlawan yang pantas kita hormati.